Etika Berkomunikasi Dengan Guru Melalui Ponsel

Post a Comment

Pernahkah Anda mengirim pesan melalui ponsel kepada guru atau dosen, namun tidak dibalas? Bukan karena tidak aktif, atau tidak dibaca. Mungkin karena ada yang salah dengan pesan yang kita kirim. Lalu bagaimana sebaiknya?

Urgensi Etika Berkomunikasi

Tahun lalu saya memposting ulang sebuah gambar pesan Pof. Joshaphat Tetuko Sri Sumantyo. Beliau tidak habis pikir kepada calon mahasiswa S3 yang tidak memiliki etika dan sopan santun dalam mengirim pesan. Lantas  menyuruhkan kembali belajar di SD. 

Berlebihan? Tentu tidak! Banyak pendidikan saat ini yang berlomba-lomba menjadi institusi berkelas dunia, dan juga menguasai TIK. Namun melupakan pendidikan Etika.

Pendidikan kita sebenarnya telah dirancang sedemikian rupa untuk membentuk karakter sejak usia dini. Secara umum, pendidikan kita dibagi menjadi 3. Pendidikan dasar untuk jenjang SD dan SMP. Pendidikan menengah untuk jenjang SMA/SMK. Pendidikan tinggi untuk diploma dan sarjana maupun selebihnya. 

Evaluasi pendidikan pun terdapat 3 aspek penilaian. Kognitif, Afektif, dan Psikomotor. Ranah kognitif berkaitan dengan kompetensi intelektual, akademik, penguasaan terhadap materi pelajaran. Ranah afektif berkaitan dengan penilaian sikap. Ranah psikomotor berkaitan dengan keterampilan.

Porsi evaluasi pendidikan berdasarkan jenjangnya, pendidikan dasar lebih banyak pada aspek afektif. Pendikan menengah pada aspek kognitif. Dan pendidikan tinggi pada aspek psikomotor.

Namun pada prateknya, pendidikan dasar kita lebih mengutamakan penilaian kognitif dibandingkan afektifnya. Buktinya apa? Bisa Anda lihat penentuan kelulusan, kenaikan kelas, porsinya lebih banyak pada aspek kognitif, dibandingkan afektifnya. 

Tantangan Guru

Pada Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) seperti saat ini. Bagaimana guru pada pendidikan dasar dapat mengontrol afektif siswa? Hal ini menjadi tantangan bagi guru. Tetapi tidak sedikit guru yang berfikir, "yah, sudahlah! Yang penting sudah mengerjakan tugas."

Namun masih ada guru yang peduli terhadap perkembangan siswanya. Termasuk peduli cara berkomunikasi siswa kepada guru melalui ponsel. Guru-guru memberikan contoh dalam berkomunikasi di media sosial. Walaupun terkadang ada yang berfikir, "ah, masa seperti itu aja nggak ngerti." Nah, disinilah guru berperan memberikan pendidikan etika berkomunikasi. Disamping guru menyampaikan materi pelajarannya.

Sembilan tahun pendidikan dasar (SD - SMP) bukan waktu yang lama. Namun pendidikan karakter pada masa ini, secara konsisten dan berkelanjutan harus dilakukan. Guru menjadi model dan memberikan teladan bagi siswa. 

Oleh sebab itu, guru sangat perhatian terhadap sikap siswanya meskipun saat bermedia sosial. Karena tidak dapat dipungkiri, bahwa hampir semua anak jaman sekarang, memiliki media sosial. Bukan bermaksud untuk ikut campur urusan pribadi dalam bermedia sosial. Tetapi salah satu bentuk perhatian, dalam upaya membentengi siswanya dengan batasan etika bermedia sosial.


Gambar: Etika Berkomunikasi Dengan Guru Melalui Ponsel


Bagaimana Etika Mengirim Pesan Kepada Guru?

  1. Ucapkan Salam terlebih dahulu untuk membuka percapan (Assalamu 'alaikum/Selamat Pagi, Siang, Sore). Hal ini menunjukkan sopan santun dan Sebagai tanda kerendahan hati.
  2. Perkenalkan diri dengan identitas lengkap (Nama, Angkatan, Kelas)
  3. Sampaikan pesan secara singkat dan jelas dengan bahasa yang santun
  4. Perhatikan waktu mengirim pesan. Sebaiknya menghubungi pada jam kerja. Pukul 08.00 - 15.00. Hndari mengirim pesan diatas pukul 21.00
  5. Ucapkan terimakasih dan salam untuk menutup percakapan.

Contoh:

"Assalamu 'alaikum. Selamat Pagi Mr. Desbud

Perkenalkan saya Fulan Al Fulan, Siswa Madrasah SabiiQien kelas 7A. Mohon ijin mengumpul tugas mata pelajaran ADAB. Berikut saya lampirkan tugasnya berupa file.

Terimakasih sebelumnya. Wassalamu 'alaikum."

Tanamkan dalam diri untuk menjaga etika yang baik kepada setiap orang. Agar menjadi kebiasaan yang baik. Sehingga orang lain akan merasa aman dan nyaman kepada kita. Ketika pengtahuan Anda peroleh dari belajar, kecakapan Anda miliki dari pengalaman. Demikian Akhlak tertanam karena kebiasaan. Banyak orang yang semasa sekolah menjadi juara kelas karena paling cerdas. Namun pada akhinya hidup biasa-biasa saja. Tidak sedikit orang yang tidak pernah mendapat peringkat di kelas. Namun selalu diingat guru, lantaran sikapnya yang baik. Akhirnya mendapatkan kedudukan yang layak dan ilmunya bermanfaat. Demikian pentingnya Attitude yang kedudukannya lebih tinggi dari Ilmu. 

Jadi saat mengirim pesan kepada guru, tetapi tidak mendapatkan balasan. Lantas bilang gurunya sombong, sok sibuk, dan lain sebagainya. Padahal guru hendak memberikan pelajaran bahwa, ada etika ketika mengirim pesan.

Jangan berburuk sangka jika pesan yang sudah kita kirim kepada guru, namun tidak mendapatkan balasan. Coba cek kembali, apakah pesan yang kita kirim telah menggunakan etika yang baik? Waktunya sudah tepat? Dan hal lain yang perlu diperhatikan sebelum mengirim pesan. Mari membiasakan diri dengan etika yang baik. Kelak akan kita rasakan manfaat dari membiasakan diri dari berperilaku baik.


Mr. Desbud
GURU - PELATIH - PUBLISHER

Related Posts

Post a Comment

Subscribe