Madrasah Menjadi Benteng Runtuhnya Moral

Post a Comment

Apa yang lebih tinggi kedudukannya dari Ilmu? Sebab banyak orang berilmu, sekolah tinggi lulusan luar negeri. Tapi tidak sedikit mereka yang berakhir di bui. Apa Anda mengira harta dan tahta yang lebih tinggi kedudukannya dari ilmu? Tetapi nyatanya tidak sedikit pejabat yang memiliki banyak harta, mobil mewah, fasilitas tersedia. Namun masih merasa kurang dan memgambil hak orang lain.

Pada postingan sebelumnya tentang Pentingnya Attitude saya mengutip kata-kata Bung Hatta terkait dengan kejujuran. Masih terkait dengan Attitude atau sikap. Biasa saya menyebutnya Adab atau Akhlak. Kali ini saya memandang bagaimana pentingnya madrasah sebagai benteng runtuhnya moral.

Mengapa harus di madrasah?

Saya mengajar di pendidikan dasar. Sebuah lembaga pendidikan Islam madrasah tsanawiyah. Fokus kurikulum pendidikan dasar (SD - SMP/sederajat) adalah pembentukan sikap. Porsi antara Kognitif, Afektif, Psikomotor lebih ditekankan pada aspek afektif atau sikap.

Oleh sebab itu, saya orang yang paling cerewet ketika menemukan masalah berkaitan dengan akhlak siswa di madrasah. Madrasah menjadi benteng runtuhnya moral. Guru-gurunya mengajarkan arti kehidupan melalui tuntunan keislaman dalam bingkai pendidikan. 

Madrasah Menjadi Benteng Runtuhnya Moral
Gambar: www.facebook.com

Keuntungan yang amat berharga mendapat kesempatan mengajar dan sekaligus belajar di madrasah. Alih-alih ingin meningkatkan kompetensi akademik, di madrasah mengedepankan akhlak. Belajar Adab, belajar Akhlak. Sehingga membentuk karakter pada siswa.

Belajar ilmu Agama dan IPTEK menjadikan anak-anak madrasah lebih istimewa. Sebab, selain memiliki bekal yang kuat ilmu agama, siswa madrasah juga mampu bersaing di kompetisi tingkat Internasional.

Akhlak merupakan karakter yang terbentuk dari kebiasaan yang berulang-ulang. Oleh sebab itu, di madrasah selalu membiasakan dan selalu diingatkan meskipun hanya sekedar menunduk di depan orang yang lebih tua. Atau diajarkan adab berkirim pesan saat pembelajaran jarak jauh. Tidak pernah lelah, tidak pernah bosan. Supaya kelak, lulusan madrasah menjadi teladan di masyarakatnya.

Jika Attitude sudah terbentuk, meskipun memilki gelar berjejer, pangkat kedudukan yang tinggi, harta yang banyak, tetap menunduk kepada orang yang lebih tua. Selalu hormat kepada orang tua dan guru. 

Meskipun hal ini bukan sesuatu yang mudah, tetapi memilihkan pendidikan islam di madrasah untuk anak adalah investasi yang berharga bagi orang tua. 

Tantangan Madrasah Melalui Pembelajaran Jarak Jauh

Proses Belajar Dari Rumah (BDR) saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru-guru madrasah dalam membina karakter siswa. Pasalnya, selama BDR guru dan  siswa tidak dapat saling bertatap muka secara intens. Masalah siswa yang tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti BDR. Sampai masalah etika bersosial media.

Guru tidak dapat menegur dan mengarahkan secara langsung ketika mendapati siswanya melakukan tindakan kurang terpuji. Oleh sebab itu, melalui wali kelas madrasah melakukan pendekatan emosional dengan kunjungan ke rumah. Hal ini diharapkan mampu membuang tabir pemisah yang membuat BDR terasa amat jauh. Hal ini juga sebagai salah satu bentuk perhatian kepada siswa yang masih dalam kesulitan belajar. Memberikan solusi terbaik agar dapat mengikuti pembelajaran.

Pembelajaran Jarak Jauh menggunakan media sosial WhatsApp sebagai sarana komunikasi dan diskusi antara siswa dan guru, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ditemukan percakapan yang kurang terpuji. Oleh sebab itu, guru selalu aktif membuka dan menutup grup jika dirasa kurang kondusif. Tidak pula bosan, guru menegur dan mengingatkan siswa setiap hari. 

Memberikan teladan dalam berkirim pesan di media sosial, baik kepada guru maupun kepada siswa. Seperti mengawali percakapan dengan salam, dan memperkenalkan diri. Meskipun sudah saling menyimpan nomor. Kemudian menyampaikan pesan dengan bahasa yang santun. Dan mengakhiri dengan ucapan terimakasih.

Hal ini penting disampaikan dan diajarkan kepada siswa, sebab tidak sedikit orang yang tersandung masalah hukum disebabkan karena etika bermedia sosial. Edukasi kepada siswa cara bermedia sosial yangbttap menjaga adab dan akhlak.

Mr. Desbud
GURU - PELATIH - PUBLISHER

Related Posts

Post a Comment

Subscribe